Senin, 19 Mei 2014

Wiasata Gunung Galunggung



Uniknya Gunung Galunggung, Masih Aktif Tapi Ada Danau di Kawahnya dengan Banyak Ikan


Meskipun Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 m diatas permukaan laut, untuk bisa mencapai kawah gunung yang pernah meletus pada tahun 1982 itu, pengunjung tidak perlu bersusah payah mendaki.

Demi bisa menginjakkan kaki di gunung tersebut, pengunjung perlu meniti 620 anak tangga. Bahkan pengunjung juga bisa mencapai ke kawah yang biasa dijadikan tempat berkemah dan memancing.

Gunung Galunggung sendiri berada 17km dari pusat Kota Tasikmalaya, tepatnya di Desa Linggajati, Kec Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.
Panorama keindangan Gunung Galunggung sangat memikat dan memesona. Di sana, kita disuguhi pemandangan berupa gunung, kawah, hutan, pepohonan dan pastinya kesegaran udara.

Sejauh mata memandang selama menyusuri ratusan anak tangga permanen, pengunjung tidak akan bosan karena keindahan alamnya. Jika merasa lelah, pengunjung juga bisa beristirahat sejenak sambil berfoto ria.

Sesampainya di kawah Galunggung, pengunjung bisa beristirahat di warung-warung milik penduduk sekitar yang menjajakan makanan, minuman serta camilan.

Danau Hijau dengan Banyak Ikan

 
Jika kurang puas dan tertantang untuk menuju ke bawah kawah, pengunjung bisa menyusuri jalan-jalan di sisi tepian kawah yang akan mengantar pengunjung menuju ke dasar kawah.

Sesampainya di dasar kawah, terdapat danau yang airnya tenang dan berwarna hijau. Danau tersebut juga banyak dihuni ikan-ikan yang bisa dipancing.

Selain danau, di kawah ada pula gugusan pulau kecil yang dipuncak-puncaknya berkibar dengan gagah, sang saka merah putih. Bahkan di kawah, ada pula sebuah musolah dan sumber air bagi pengunjung yang ingin berkemah atau camping ceria di dasar kawah.

Untuk mencapai destinasi ke Galunggung tidaklah sulit dan membutuhkan biaya besar. Sarana tranportasi umum pun menjangkau hingga ke pintu masuk Gunung Galunggung.

Dari ibukota, perjalanan ke Tasikmalaya bisa ditempuh dalam waktu tujuh hingga delapan jam. Untuk menghemat waktu, baiknya perjalanan ke Tasikmalaya dilakukan tengah malam. Sehingga tiba di Tasikmalaya pagi hari.

Dari Jakarta, bisa memilih menggunakan bus umum dari Terminal Kampung Rambutan menuju ke Tasikmalaya dan turun di Terminal Indhiang. Lalu dilanjutkan dengan menumpang angkot berwarna hijau tua nomor P20 dan minta diturunkan di pintu masuk Gunung Galungung.

Dari sana bisa memilih jalan kaki namun memerlukan waktu beberapa jam menyusuri hutan hingga ke anak tangga. Jika ingin menghemat waktu, bisa pula membayar jasa ojek Rp 20 ribu hingga ke tangga Gunung Galunggung.

Wisata Bahari, Jembatan Cinta, Pulau Tidung



Pulau Tidung, Jembatan Cinta

Jembatan Cinta


Berkujung ke Pulau Tidung rasanya tak lengkap bila tak mampir ke Jembatan Cinta. Jembatan ini menjadi penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatan dengan panjang sekitar 800 meter ini selalu ramai ketika saat menjelang sunrise dan sunset. Para wisatawan berfoto foto di jembatan ini melihat matahari terbit atau tenggelam.
Di bagian awal ketika menaiki jembatan ini dari Pulau Tidung Besar, kita  akan menemukan jembatan yang cukup tinggi, kurang lebih delapan meter dari permukaan laut dengan dasar laut sekitar empat sampai lima meter. Dari atas jembatan terlihat kondisi air laut yang jernih serta arus yang tenang.
Di bagian jembatan inilah banyak anak kecil yang memperagakan loncat indah dari jembatan Rupanya jembatan ini menjadi sarana bermain buat mereka. Cukup menghibur juga. Konon bagi setiap wisatawan yang loncat dari jembatan cinta ini dipercaya akan menemukan cinta sejatinya dengan cepat.
Ketika tiba di penghujung Jembatan Cinta, kita akan menapaki pantai Pulau Tidung Kecil yang merupakan kawasan pengembangbiakan mangrove. Di sini terdapat kantor Dinas Pertanian. Di pulau tak berpenduduk ini kita akan melalui jalan setapak yang dipenuhi dengan ilalang dan pantai sepi dengan pasir putih yang lembut. Pemandangan pantai dan laut Pulau Tidung kecil sangat indah dan suasana tenang.
Pulau Tidung kecil ini masih terlihat alami dan hijau dikelilingi pohon kelapa.  Di sebelah timur pulau terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam Panglima Hitam. Pulau ini menjadi ramai oleh wisatawan sejak jembatan penghubung dibangun. Pulau ini juga biasa digunakan sebagai area berkemah.

Pesona Gunung Piramida



Menikmati Pesona Gunung Piramida di Garut yang Diselimuti Misteri
Menikmati Pesona Gunung Piramida di Garut yang Diselimuti Misteri

Gunung Sadahurip di Desa Sukahurip, Kec Pangantikan, Kab Garut, Jawa Barat lebih familiar dengan nama Gunung Piramida. Beberapa tahun lalu, gunung tersebut sempat menuai banyak perhatian dan pergunjingan menyoal keberadaan piramida di balik Gunung Sadahurip. 

Gunung Sadahurip ini menyimpan keindahan panorama alam yang menakjubkan. Pasalnya gunung berwarna hijau dan ditumbuhi tanaman sayur itu bentuk dan teksturnya menyerupai piramid.
Meskipun tidak menginjakkan kaki di puncak gunung yang seluruh hamparannya menjadi garapan lahan pertanian. Namun memandangi gunung Sadahurip dari jarak jauh juga sudah memukau.
Dari kejauhan, gunung seluas 96 hektar ini tampak seperti susunan piramid yang berundak dengan hamparan tanaman palawija serta sayuran, seperti kol, cabe, tomat, dan bawang. 

Gunung ini bisa dikunjungi serute dengan perjalanan menuju ke Talaga Bodas.  Gunung yang terletak di Timur Garut ini berjarak sekitar 15km dari Terminal Guntur, Garut. Sebelum menuju ke Talaga Bodas, pasti akan melewati persimpangan jalan, dan terlihat jelas keindahan Gunung Sadahurip. Jadi apabila berkunjung ke Talaga Bodas, sempatkanlah memandangi keelokan Gunung Sadahurip.

Rabu, 07 Mei 2014

Candi Tertinggi di Yogyakarta

Candi Ijo, Candi Tertinggi di Yogyakarta


Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo,Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Candi ini terletak di dekat Candi Ratu Boko dan Candi Prambanan. Candi Ijo mendapatkan namanya dari bukit tempat candi ini didirikan yang bernama Bukit Gumuk Ijo. Candi ini merupakan candi tertinggi di Yogyakarta karena terletak sekitar 380 meter di atas permukaan laut.  

 
 
Kompleks Candi dilihat dari sisi barat. Terlihat reruntuhan candi yang masih dalam proses pemugaran.

 
Salah satu candi perwara di sisi barat kompleks candi yang masih dalam tahap pemugaran.

 
Reruntuhan candi yang telah diekskavasi dan akan digunakan untuk membangun kembali candi.


 Tangga menuju kompleks candi utama. Kompleks candi utama berada di sisi timur pada undakan tertinggi

Candi ini merupakan candi Hindu, dan dibangun antara abad 10-11 Masehi di Zaman Kerajaan Medang. Luas candi sekitar 0,8 hektar dengan 1 candi induk dan 3 candi pengapit. Kompleks candi utama ini berada di sisi timur dan berada pada teras tertinggi. Di bawah kompleks candi utama atau di sebelah barat terdapat 1 candi perwara atau candi pemujaan yang telah selesai dipugar, 1 candi perwara yang dalam proses pemugaran, dan beberapa reruntuhan candi.

 Suasana sore hari di kompleks candi utama. Batu candi memantulkan warna kemerahan dari matahari 
 
Candi induk pada kompleks Candi Ijo. Candi induk terletak di sisi timur dan menghadap ke barat. Terdapat sebuah ruangan dalam candi induk dan ditengahnya terdapat lingga yoni yang disangga ular sendok, makhluk yang berasal dari mitos Hindu. 

 
Relung yang terdapat di sisi utara, timur, dan selatan candi induk. Terdapat ukiran makara pada relung ini. Diduga terdapat arca pada relung-relung ini.

 
Hiasan kepala raksasa Kala pada atas ambang pintu candi.
 
Siluet 3 candi pengapit yang berada di depan candi induk atau di sisi barat candi induk. Pada candi yang di tengah terdapat arca Lembu Andini, kendaraan Dewa Syiwa. 3 candi ini diduga dibangun untuk candi pemujaan terhadap Trimurti yaitu Brahma, Wisnu, dan Syiwa.

Karena posisinya yang berada diatas bukit dan menghadap ke barat, Candi Ijo juga menjadi tempat tujuan untuk menyaksikan matahari terbenam. Banyak pengunjung yang sengaja datang sore hari untuk berjalan-jalan di areal candi dan kemudian menyaksikan matahari terbenam dari pelataran candi. Pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk ke dalam kompleks candi, cukup dengan melapor ke pos penjagaan dan mengisi buku tamu

 
Pengunjung menyaksikan matahari terbenam dari pelataran kompleks candi utama
 
Dari pelataran candi utama pengunjung dapat menyaksikan pemandangan Yogyakarta di kejauhan

Selasa, 06 Mei 2014

Festival Budaya Suku Bajo



PROSESI DUATA, RITUAL ADAT SUKU BAJO

                                                                Persiapan Prosesi Duata
 
Wakatobi bukan sekedar mempunyai surga bawah laut dan pemandangan alam tak terlupakan di bagian daratnya. Wakatobi juga mempunyai kekayaan sumberdaya manusia yang sangat meghargai alam dan bangga dengan kesederhanaannya dalam berkehidupan sehari-hari, padahal mereka memiliki kekayaan tak ternilai, yaitu menjadi warga asli pemilik keindahan wakatobi. Suku bajo, tersebar di sejumlah wilayah komunal di wakatobi. Bajo Mola menjadi penjaga kesimbangan alam di wangi-wangi, bajo sampela, Lohoa dan Mantigola memeluk Pulau Kaledupa dengan keseharian adat yang kental,dan Bajo Lamanggau penakluk alam dari Pulau Tomia. Dalam sejarah masa lampau kehidupan komunitas Bajo ini selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sehingga suku Bajo bisa hampir pasti dapat selalu ditemukan pada semua Negara yang memiliki pesisir pantai. Berubahnya jaman dan perilaku iklim yang tak sebersahaja dulu, bukan berarti dapat melunturkan kebudayaan masyarakat Bajo. Salah satu wujud budaya yang hingga sat ini masih dipegang kuat adalah Prosesi Duata.

Dalam pelaksanaan berbagai hajatan di kabupaten Wakatobi prosesi ini juga sering ditampilkan untuk semua orang agar berkumpul layaknya keluarga di wakatobi. Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo. Duata adalah saduran dari kata dewata. Dalam keyakinan masyarakan bajo, Duata adalah dewa yang turun dari langit dan menjelma dalam kehidupan manusia. Tradisi duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku Bajo. Duata berlangsung jika ada salah satu diantara kerabat suku mengalami sakit keras dan tak lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan medis.


Dalam prosesi duata yang digelar pada pelaksanaan Festival Budaya Wakatobi, sejumlah tetua adat sengaja menyempatkan waktunya berkumpul dalam suasana pengobatan. Terbentuklah satu ruangan dengan ukuran sekitar 2 meter persegi. Dihiasi dnegan janur kuningan di bagian atasnya meski tanpa pagar. Ada pula ula-ula, bendera yang merupakan lambang kebesaran suku Bajo yang diyakini membawa keberkahan. Tetua adat yang didominasi perempuan lanjut usia meramu berbagai jenis pelengkap ritual. Ada beras berwarna warni yang dibentuk melingkar di atas daun pisang. Ini menggambarkan warna warni sifat yang dimiliki manusia. Ada pula pembakaran dupa untuk mengharumkan sekitar pelaksanaan kegiatan, daun sirih, kelapa dan pisang. Setelah semua bahan teracik sesuai dengan kebiasaan sebelumnya orang yang akan diobati digiring menuju laut. Sepanjang perjalanan lagu liligo tak pernah putus dinyanyikan. Demikian dengan tabuhan gendang. Di barisan terdepan berjajar delapan orang gadis cantik berpakaian adat tak berhenti menggerakan badan dan menggetarkan hatinya sambil menari Ngingal. Di atas perahu semua peserta juga harus menari Ngigal untuk menyemangati orang yang sakit agar kembali menemukan semangat hidupnya.

Sementara tetua adat melakukan prosesi larungan, prosesi duata juga melibatkan pisang dan beberapa perlengkapan tidur., seperti bantal dan tikar. Menurut cerita, prosesi ini dilakukan untuk memberi makan sudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupan masyarakan Bajo, mereka percaya, bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung hidup di laut. Sehingga jika salah satu di antara mereka menderita sakit keras, sebagian semangat orang itu telah diambil oleh saudara kembarnya yang disebut Kakak untuk dibawa menemaninya ke laut, dan sebagain lagi menjadi pendamping dewa untuk mengarungi langit ke tujuh.

Usai pelarungan, orang sakit dan tetua adat kembali ke tempat semula. Orang yang sakit akan kembali melalui beberapa prosesi pengobatan seperti mandi dengan bunga pinang atau disini terkenal dengan sebutan mayah. Proses ini berguna untuk membersihkan penyakit yang ada di tubuh dan mengusir roh jahat. Selain itu, tetua adat juga akan mengikatkan benang di lengan yang sakit, konon benang ini berasal dari langit ketujuh yang dibawa turun oleh tujuh bidadari sebagai obat. Dari benang yang sebelumnya tersimpan dalam cangkir, tetua adat dapat mengetahui apakah yang sakit ini masih dapat sembuh atau tidak. Untuk menguji kesembuhan, salah satu tetua adat akan menancapkan keris tepat di atas ubun ubu orang yang sedang dalam pengobatan. Selanjutnya orang sakit tersebut diputari sebanyak beberapa kali oleh tetua adat sambil membawa keris yang terhunus. Kekuatan mental langsung diuji seketika itu juga. Pengujian kesembuhan ini juga dilakukan dengan cara mengadu dua ekor ayam jantan. Jika ayam si sakit menang maka itu berarti si sakit telah sembuh. Selanjutnya si sakit akan menghambur-hamburkan beras sebagai wujud kegembiraan, karena telah terbebas dari penyakit yang dideritanya. Sementara keluarga dan sanak saudara bersorak dengan meriah merayakan kesembuhan si sakit.
Seorang warga mola mengatakan, dalam kehidupan masyarakan Bajo pelaksanaan tradisi Duata tidak terbatas pada prosesi pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan. Tradisi ini juga dilakukan untuk memberikan penghargaan pada penguasa laut yang mereka sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbi Gulli. Orang Bajo berharap, kekayaan tradisi yang dimiliknya dapat semakin menambah kekayaan budaya di Wakatobi. Sehingga Wakatobi makin mengukuhkan dirinya sebagai daerah Surga Nyata baik di darat dan lautnya, juga sebagai kawasan pusat segitiga karang dunia.