PROSESI
DUATA, RITUAL ADAT SUKU BAJO
Persiapan Prosesi Duata
Wakatobi bukan sekedar mempunyai
surga bawah laut dan pemandangan alam tak terlupakan di bagian daratnya.
Wakatobi juga mempunyai kekayaan sumberdaya manusia yang sangat meghargai alam
dan bangga dengan kesederhanaannya dalam berkehidupan sehari-hari, padahal
mereka memiliki kekayaan tak ternilai, yaitu menjadi warga asli pemilik
keindahan wakatobi. Suku bajo, tersebar di sejumlah wilayah komunal di
wakatobi. Bajo Mola menjadi penjaga kesimbangan alam di wangi-wangi, bajo
sampela, Lohoa dan Mantigola memeluk Pulau Kaledupa dengan keseharian adat yang
kental,dan Bajo Lamanggau penakluk alam dari Pulau Tomia. Dalam sejarah masa
lampau kehidupan komunitas Bajo ini selalu berpindah dari satu tempat ke tempat
lain. Sehingga suku Bajo bisa hampir pasti dapat selalu ditemukan pada semua
Negara yang memiliki pesisir pantai. Berubahnya jaman dan perilaku iklim yang
tak sebersahaja dulu, bukan berarti dapat melunturkan kebudayaan masyarakat
Bajo. Salah satu wujud budaya yang hingga sat ini masih dipegang kuat adalah
Prosesi Duata.
Dalam pelaksanaan berbagai hajatan
di kabupaten Wakatobi prosesi ini juga sering ditampilkan untuk semua orang
agar berkumpul layaknya keluarga di wakatobi. Prosesi Duata, Ritual Adat Suku
Bajo. Duata adalah saduran dari kata dewata. Dalam keyakinan masyarakan bajo,
Duata adalah dewa yang turun dari langit dan menjelma dalam kehidupan manusia.
Tradisi duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku Bajo.
Duata berlangsung jika ada salah satu diantara kerabat suku mengalami sakit
keras dan tak lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan
medis.
Dalam prosesi duata yang digelar
pada pelaksanaan Festival Budaya Wakatobi, sejumlah tetua adat sengaja
menyempatkan waktunya berkumpul dalam suasana pengobatan. Terbentuklah satu
ruangan dengan ukuran sekitar 2 meter persegi. Dihiasi dnegan janur kuningan di
bagian atasnya meski tanpa pagar. Ada pula ula-ula, bendera yang merupakan
lambang kebesaran suku Bajo yang diyakini membawa keberkahan. Tetua adat yang
didominasi perempuan lanjut usia meramu berbagai jenis pelengkap ritual. Ada
beras berwarna warni yang dibentuk melingkar di atas daun pisang. Ini
menggambarkan warna warni sifat yang dimiliki manusia. Ada pula pembakaran dupa
untuk mengharumkan sekitar pelaksanaan kegiatan, daun sirih, kelapa dan pisang.
Setelah semua bahan teracik sesuai dengan kebiasaan sebelumnya orang yang akan
diobati digiring menuju laut. Sepanjang perjalanan lagu liligo tak pernah putus
dinyanyikan. Demikian dengan tabuhan gendang. Di barisan terdepan berjajar
delapan orang gadis cantik berpakaian adat tak berhenti menggerakan badan dan
menggetarkan hatinya sambil menari Ngingal. Di atas perahu semua peserta juga
harus menari Ngigal untuk menyemangati orang yang sakit agar kembali menemukan
semangat hidupnya.
Sementara tetua adat melakukan
prosesi larungan, prosesi duata juga melibatkan pisang dan beberapa
perlengkapan tidur., seperti bantal dan tikar. Menurut cerita, prosesi ini
dilakukan untuk memberi makan sudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam
kehidupan masyarakan Bajo, mereka percaya, bahwa setiap kelahiran anak pasti
bersama kembaran yang langsung hidup di laut. Sehingga jika salah satu di
antara mereka menderita sakit keras, sebagian semangat orang itu telah diambil
oleh saudara kembarnya yang disebut Kakak untuk dibawa menemaninya ke laut, dan
sebagain lagi menjadi pendamping dewa untuk mengarungi langit ke tujuh.
Usai pelarungan, orang sakit dan
tetua adat kembali ke tempat semula. Orang yang sakit akan kembali melalui
beberapa prosesi pengobatan seperti mandi dengan bunga pinang atau disini
terkenal dengan sebutan mayah. Proses ini berguna untuk membersihkan penyakit
yang ada di tubuh dan mengusir roh jahat. Selain itu, tetua adat juga akan
mengikatkan benang di lengan yang sakit, konon benang ini berasal dari langit
ketujuh yang dibawa turun oleh tujuh bidadari sebagai obat. Dari benang yang
sebelumnya tersimpan dalam cangkir, tetua adat dapat mengetahui apakah yang
sakit ini masih dapat sembuh atau tidak. Untuk menguji kesembuhan, salah satu tetua
adat akan menancapkan keris tepat di atas ubun ubu orang yang sedang dalam
pengobatan. Selanjutnya orang sakit tersebut diputari sebanyak beberapa kali
oleh tetua adat sambil membawa keris yang terhunus. Kekuatan mental langsung
diuji seketika itu juga. Pengujian kesembuhan ini juga dilakukan dengan cara
mengadu dua ekor ayam jantan. Jika ayam si sakit menang maka itu berarti si
sakit telah sembuh. Selanjutnya si sakit akan menghambur-hamburkan beras
sebagai wujud kegembiraan, karena telah terbebas dari penyakit yang
dideritanya. Sementara keluarga dan sanak saudara bersorak dengan meriah
merayakan kesembuhan si sakit.
Seorang warga mola mengatakan, dalam
kehidupan masyarakan Bajo pelaksanaan tradisi Duata tidak terbatas pada prosesi
pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan.
Tradisi ini juga dilakukan untuk memberikan penghargaan pada penguasa laut yang
mereka sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbi Gulli. Orang Bajo berharap, kekayaan
tradisi yang dimiliknya dapat semakin menambah kekayaan budaya di Wakatobi.
Sehingga Wakatobi makin mengukuhkan dirinya sebagai daerah Surga Nyata baik di
darat dan lautnya, juga sebagai kawasan pusat segitiga karang dunia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar