Selasa, 29 April 2014

Fakta Sejarah



Museum Swasta Berjuang
Dalam pelestarian berbagai kekayaan seni dan budaya, sekaligus sejarah bangsa, ternyata museum masih berjuang menghidupi dirinya.


Udaya Halim, pendiri Museum Benteng Heritage yang menampilkan keindahan budaya Indonesia-Cina. Museum ini terletak di Pasar Lama, Tangerang.

Andil museum swasta dalam melengkapi museum pemerintah sangat besar. Begitu pula perannya dalam menghidupkan serta memuliakan kebudayaan sehingga patut diapresiasi dan didukung. Di sisi lain, museum-museum swasta itu berjuang menghidupi diri pula.Jumlah museum swasta justru lebih banyak dari museum pemerintah. Dari total 300 museum di Indonesia, milik pemerintah pusat hanya 5 unit, milik pemerintah provinsi 25 unit, dan museum pemerintah kota/kabupaten 100-an unit. Selebihnya merupakan museum swasta.
"Peran museum swasta sangat penting bagi pengembangan kebudayaan, dari segi sejarah dan pendidikan. Pemerintah seharusnya juga menyokong museum-museum swasta ini," kata Ketua Umum Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali, yang kerap mengunjungi museum-museum di Indonesia.Museum Layang-layang di Jalan Haji Kamang, Jakarta Selatan, merupakan salah satu museum swasta yang sejak didirikan pada 2003 ramai pengunjung. Museum itu harus bekerja keras menghidupi dirinya, termasuk menggaji para karyawan museum."Kami berjuang mendatangkan pengunjung. Kalau hanya memamerkan layang-layang, orang enggak tertarik. Saya bikin lokakarya, lalu membuat film dokumenter tentang layang-layang. Jadi, orang tahu layang-layang yang dalam hal bentuk saja sangat beragam. Dari segi sejarah, fungsi sosial dan budaya, antropologi, serta keagamaan juga sarat makna," papar pemilik museum Layang-Layang, Endang Ernawati.

Ciptakan acara
Endang masih ingat, dua tahun pertama museum didirikan, pengunjung masih sepi. Endang memutar otak. Selain membuka lokakarya layang-layang, Endang menggelar festival serta kegiatan lain. Dia bekerja sama dengan dinas kebudayaan dan lembaga-lembaga lain.
"Saya punya kemauan untuk melestarikan layang-layang ini. Ini kekayaan budaya kita," ujar Endang, yang sejak 25 tahun lalu bekerja sama dengan beberapa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Harga tiket masuk museum itu Rp 10.000 per orang, termasuk lokakarya membuat layang-layang. Museum menyediakan pemandu, tetapi tidak dipatok biaya tertentu. Museum seluas hampir 2.000 meter persegi itu juga terkadang disewakan untuk acara, seperti pernikahan. "Kalau tidak kreatif membuat kegiatan, bagaimana bisa kami membayar karyawan. Kami tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah dan tidak money oriented," tutur Endang.

Sejarah untuk anak
Salah satu sudut bangunan di Museum Ullen Sentalu yang antik.

Museum swasta yang juga menarik perhatian masyarakat ialah Ullen Sentalu di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum itu didirikan keluarga Haryono dengan dukungan sesepuh dinasti Mataram dan diresmikan oleh Pakualaman VIII pada 1 Maret 1997. Koleksi Ullen Sentalu berupa benda-benda bersejarah, termasuk foto-foto yang menceritakan sejarah Keraton Yogyakarta dan Surakarta.Ayu Ari, warga Bali, sangat tertarik dengan Ullen Sentalu hingga beberapa kali datang. "Sekarang saya datang lagi mengajak anak-anak saya," kata ibu lima anak itu. Bagi Ayu Ari, sejarah masa lalu kerajaan-kerajaan di Indonesia sangat menarik untuk diceritakan kembali, terutama kepada anak-anak. "Bali juga kental dengan tradisi keraton, mirip-miriplah dengan Yogyakarta," ujarnya.
Museum Bank Mandiri yang berlokasi di kawasan Kota Tua Jakarta selalu membuat kegiatan secara berkala demi menjaga minat pengunjung. "Kami bekerja sama dengan komunitas untuk menggaet pengunjung. Menjual cerita tentang bank tidak gampang, jadi kami terus berinovasi menghidupkan museum," ujar Kartum Setiawan dari bagian Edukasi dan Pengembangan Museum Bank Mandiri.


Museum Bank Mandiri 

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto mengungkapkan, pemerintah selalu mendukung museum swasta. "56 persen dana direktorat kami diserahkan ke pemerintah daerah (dinas) untuk membantu revitalisasi cagar budaya serta museum," kata Harry. Dia mempersilakan pemerintah provinsi membantu museum swasta. Hanya, dana terbatas. Jadi, tidak semua museum bisa dibantu dalam waktu bersamaan.

Wisata Sejarah, Candi Mendut



Pewara Baru Ditemukan di Pelataran Candi Mendut
Balai Konservasi Borobudur menemukan candi baru di halaman Candi Mendut, Magelang.
Candi Mendut
Balai Konservasi Borobudur (BKB) menemukan pewara (candi kecil) baru di halaman Candi Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.
Struktur candi itu bukan terbuat dari batu seperti struktur candi Mendut dan Borobudur, melainkan berupa bata berukuran besar.
Berdasarkan informasi yang terhimpun, penemuan itu bermula ketika petugas BKB sedang melakukan penataan halaman Candi Buddha itu beberapa waktu lalu.
Saat melakukan penggalian di sisi selatan candi, tiba-tiba petugas mendapati tumpukan bata membentuk pondasi.
"Kami terus lakukan penggalian dan benar ada pondasi bata," ujar Koordinator Pokja Pemeliharaan BKB, Yudi Suhartono, ditemui akhir pekan kemarin.
BKB kemudian memutuskan untuk melanjutkan penggalian sepanjang tiga meter, lebar dua meter dan kedalaman 120 cm.  
Menurut Yudi, penemuan ini tergolong langka karena letak pondasi bata di bawah bangunan Candi Mendut yang terbuat dari batu andesit. "Selanjutnya kami akan lakukan penelitian secara matang," ucap Yudi.  
BKB memperkirakan, pondasi bata itu merupakan struktur bata pada masa kerajaan Mataram kuno.
Apabila dilihat dari ukuran bata yang besar, sepanjang 34 sentimeter, tebal 13 sentimeter dan lebar 23 sentimeter.
Yudi menjelaskan, Candi Mendut diperkirakan dibangun pada abad ke-VIII. Pada saat itu di bangun pula Candi Borobudur dan Candi Pawon yang terletak sekitar dua kilometer dari Candi Mendut.
Koordinator Pokja Pengamanan BKB, Sugiyono menambahkan, selain dari BKB, penggalian dan penelitian itu juga dibantu arkeolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta.
BKB telah melakukan penggalian dari 21-24 April 2014 lalu. Kemudian penggalian akan dilanjutkan mahasiswa UGM Yogyakarta hingga 30 Apil 2014 mendatang.
Kekinian, tim itu masih melakukan penggalian di lima titik. Dua kotak pengalian dilakukan di sisi selatan Candi Mendut dan tiga kotak di utara Candi Mendut.
Untuk ukuran penggalian di antaranya empat kotak berukuran 2x2 meter dan satu kotak berukuran 1x2 meter.  
"Dari tiga kotak penggalian di sisi selatan Candi Mendut, kami menemukan struktur bata. Sedangkan dua kotak di sisi utara Candi kami menemukan pecah-pecahan grabah dan keramik," ungkap Sugiyono.

Wisata Bahari



Krueng Aceh Jangan Disia-siakan
Warga berharap pemerintah setempat bisa memaksimalkan dan melestarikan Krueng Aceh.


Krueng (Sungai) Aceh yang mengalir sepanjang sekitar 10 kilometer di Banda Aceh tampak tenang, beberapa waktu lalu. Krueng Aceh merupakan salah satu sungai terpanjang di Aceh yang kini masih lestari.
Tali senar berumpan udang dari joran dilempar Bahrul (30). Belum lima menit, tali itu sudah meliuk-liuk. Bahrul lekas menarik joran dan ikan bulan-bulan sepanjang 60 sentimeter didapat.
Tak terasa Bahrul telah mendapatkan 55 ikan bulan-bulan dari empat jam memancing di Krueng (Sungai) Aceh yang melintasi Kota Banda Aceh. ”Di Krueng Aceh, kalau air pasang pasti banyak ikan. Paling banyak ikan bulan-bulan yang sejenis ikan bandeng,” ujar warga asli Banda Aceh itu saat saat ditemui awal Februari lalu.
Krueng Aceh adalah salah satu sungai terbesar di Aceh. Sungai sepanjang 145 kilometer itu mengalir dari hulu di Cot Seukek, Aceh Besar, ke hilir di Gampong (Kampung) Nelayan Lampulo, Banda Aceh.
Kelestarian lingkungan sungai ini masih terjaga. Setidaknya hal itu tampak pada lebih kurang 10 kilometer aliran Krueng Aceh di Banda Aceh. Air sungai masih bersih dengan warna hijau kebiruan. Ikan pun masih banyak. Itu yang membuat pemancing berdatangan saat air pasang.
Bahkan, sejumlah warga, salah satunya Bahrul, menjadikan memancing sebagai kegiatan sampingan. Sehari-hari Bahrul bekerja sebagai pedagang jus, tetapi pekerjaan itu ditinggalkan ketika Krueng Aceh pasang.
Ia mengatakan paling sering mendapatkan ikan bulan-bulan. Ikan itu dijual seharga Rp 5.000 per ekor. ”Sekali memancing paling sedikit dapat 30 ikan bulan-bulan. Lumayan bisa menambah penghasilan,” ujarnya.
Bagi warga, memancing di Krueng Aceh bisa menjadi pelepas penat. Juanda Arjuna (34), contohnya. Pria pegawai negeri sipil ini sering meluangkan waktu untuk memancing di sungai itu selepas bekerja. ”Di sini, ikan masih banyak. Ketika dapat rasanya lega, stres hilang,” ucapnya.
Warga pun menjadikan Krueng Aceh sebagai tempat rekreasi. Sore adalah waktu terbaik para keluarga berkumpul di pinggiran sungai. Mereka bercengkerama sembari makan rujak buah dari pedagang keliling.
Kondisi itu sangat didukung suasana sungai yang masih asri. Di pinggiran sungai masih ada tanah lapang selebar 5-10 meter yang ditumbuhi pepohonan rimbun, semisal pinus.
Krueng Aceh mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang aktivitas warga Banda Aceh. Banyak warga yang memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Daroy Banda Aceh menjadikan air sungai itu sebagai sumber air baku.
Di muaranya, Krueng Aceh menjadi tempat kapal-kapal nelayan bersandar. Aktivitas kehidupan masyarakat di muara sungai telah berlangsung lama. Tercatat Gampong Pande di sisi barat muara sungai itu dibangun Sultan Alaidin Johansyah pada 22 April 1205. Permukiman ini diyakini menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam dan Banda Aceh sekarang.

Belum maksimal
Warga berharap pemerintah setempat bisa memaksimalkan dan melestarikan Krueng Aceh. Sungai ini belum dikelola dengan baik. Belum ada fasilitas memadai yang membuat warga nyaman menikmati sungai itu, semisal jalur khusus pedestrian, tempat duduk, dan pondokan. Di beberapa sudut sungai, warga harus duduk lesehan di sembarang tempat. Wadah sampah pun tak banyak sehingga warga masih membuang sampah sembarangan di pinggiran sungai atau ke sungai.
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Rere Meiliza (21), berpendapat, pemerintah patut berkaca pada Malaysia yang cerdik menggarap tempat wisata sekalipun tak terlalu istimewa. ”Di sini, Krueng Aceh bersih dan asri. Itu modal untuk mengembangkan sektor pariwisata Aceh dan Banda Aceh,” kata warga asal Kota Langsa ini.
Warga pendatang berpendapat serupa. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik Unsyiah asal Medan, Sumatera Utara, Alfri Sinulingga (22), menilai, dibandingkan sungai-sungai di daerahnya, Krueng Aceh jauh lebih baik. ”Wisatawan akan sangat betah di sini kalau ditunjang fasilitas untuk pedestrian, tempat duduk, dan gazebo yang nyaman. Apalagi kalau ada sarana perahu wisata,” ucapnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh telah berupaya memaksimalkan potensi Krueng Aceh. Pada 2010, mereka membangun lima dermaga di sepanjang sungai yang melintasi kota itu. Tujuannya, sebagai penunjang warga dan wisatawan yang ingin menggunakan fasilitas perahu wisata. Sayang, fasilitas itu terbengkalai.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banda Aceh Muhammad Bahagia mengungkapkan, program itu belum berjalan karena dangkalnya air Krueng Aceh. ”Saat itu, perahu yang dioperasikan tidak bisa jalan karena terhalang sampah sisa tsunami yang memenuhi sungai tersebut,” katanya.
Pada 2013, Pemkot Banda Aceh dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menandatangani nota kesepahaman untuk mengeruk sampah di Krueng Aceh sepanjang 5 kilometer. Proyek itu dikerjakan dengan dana dari APBN Rp 10 miliar. ”Nantinya bukan hanya untuk pariwisata. Sungai ini pun akan dimaksimalkan sebagai jalur utama transportasi air,” kata Bahagia.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Hermanto mengatakan, Pemerintah Provinsi Aceh harus berupaya meningkatkan kualitas wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Wisatawan perlu dipikat agar mau tinggal dalam waktu lama. Semakin lama mereka di Aceh, kian banyak pula uang yang berputar di daerah itu.
Merujuk Aceh dalam Angka 2013, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara meningkat tiga tahun ini. Tamu domestik ke Aceh pada 2010 sebanyak 720.079 orang. Jumlah itu meningkat menjadi 959.545 orang (2011) dan 1.026.800 orang (2012). Adapun tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648 orang pada 2010. Jumlah itu meningkat menjadi 28.054 (2011) dan 28.993 (2012).
Namun, dunia wisata Aceh hanya meningkat dari segi kuantitas wisatawan, tetapi tidak dalam kualitasnya. Data BPS Aceh 2013 menunjukkan, lama kunjungan wisatawan justru menurun setahun terakhir. Menurut Hermanto, kondisi itu karena kurangnya fasilitas pendukung di sejumlah tempat wisata di Aceh sehingga wisatawan tidak ingin berlama-lama.

Online Booking, Kenapa Tidak?



Online Booking, Tidak Ada Alasan untuk Tidak Melakukannya
Perkembangan yang terus naik membangkitkan optimisme bahwa pasar Indonesia sudah siap dengan konsep booking online.

Para pembicara dari berbagai start-up di bidang pariwisata, dalam WIT Indonesia 2014

Pemesanan tiket pesawat (booking) online sudah banyak dilirik di Indonesia, terutama tak asing lagi untuk publik di kota-kota besar. Saat ini peminat online booking meningkat dan jumlah penggunanya menanjak. "Perkembangan sangat pesat. Sejak tahun lalu, saya melihat market sudah siap dengan konsep booking online ini," tutur Ferry Unardi, Managing Director dari Traveloka.com, saat dijumpai di acara Web in Travel (23/4). Traveloka adalah perusahaan internet yang bergerak menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat secara online, dirintis mulai Maret 2012.
"Ini karena semua maskapai telah memberlakukan e-ticket," lanjutnya.
Dijelaskan dia, melakukan penjual tiket online, sangat berbeda dari penjualan tiket offline yang sifatnya mementingkan keramahtamahan. "Menjual tiket online lebih soal menyediakan layanan yang reliable, demi memenuhi permintaan yang sudah ada," katanya. Ferry yang memiliki latar belakang software engineer ini menambahkan, sistem dan teknologi yang kuat mutlak penting untuk bisnis Traveloka.
Menurut pengamatannya, "Kalau tahun 2012 orang-orang yang ingin booking online, tapi masih penuh pertimbangan lantas batal. Pada 2013 dalam taraf mencoba-coba, 2014 ini banyak orang sudah mau dan biasa online booking. 2015 nanti, semua orang sudah tidak berpikir lagi: booking online sudah jadi pilihan utama."
Perkembangan yang terus naik dengan pesat membangkitkan optimismenya bahwa ini akan bertahan dalam industri travel Indonesia. "Sebab sudah lebih praktis dalam mencari, lengkap menemukan tiket, baik yang termurah, jam yang tepat, maupun rute-rute tertentu; juga harga bersaing dan payment yang mudah, bisa segala cara. Sehingga ujung-ujungnya tidak ada alasan untuk tidak," simpul Ferry. Di samping itu, dari segi maskapai online booking juga lebih praktis, lebih efisien, serta menguntungkan.
"Namun, offline travel agent juga punya tetap punya peranan, saya rasa. Karena perlu ada mengerti orang secara lebih mendalam lagi, kasih tawaran lebih personalized. Misalnya untuk memberitahu orang yang belum menentukan akan berlibur ke mana," ungkap Ferry.