Krueng Aceh Jangan Disia-siakan
Warga berharap
pemerintah setempat bisa memaksimalkan dan melestarikan Krueng Aceh.
Krueng (Sungai) Aceh yang mengalir sepanjang sekitar
10 kilometer di Banda Aceh tampak tenang, beberapa waktu lalu. Krueng Aceh
merupakan salah satu sungai terpanjang di Aceh yang kini masih lestari.
Tali senar berumpan udang dari joran dilempar Bahrul
(30). Belum lima menit, tali itu sudah meliuk-liuk. Bahrul lekas menarik joran
dan ikan bulan-bulan sepanjang 60 sentimeter didapat.
Tak terasa Bahrul telah mendapatkan 55 ikan
bulan-bulan dari empat jam memancing di Krueng (Sungai) Aceh yang melintasi
Kota Banda Aceh. ”Di Krueng Aceh, kalau air pasang pasti banyak ikan. Paling
banyak ikan bulan-bulan yang sejenis ikan bandeng,” ujar warga asli Banda Aceh
itu saat saat ditemui awal Februari lalu.
Krueng Aceh adalah salah satu sungai terbesar di Aceh.
Sungai sepanjang 145 kilometer itu mengalir dari hulu di Cot Seukek, Aceh
Besar, ke hilir di Gampong (Kampung) Nelayan Lampulo, Banda Aceh.
Kelestarian lingkungan sungai ini masih terjaga.
Setidaknya hal itu tampak pada lebih kurang 10 kilometer aliran Krueng Aceh di
Banda Aceh. Air sungai masih bersih dengan warna hijau kebiruan. Ikan pun masih
banyak. Itu yang membuat pemancing berdatangan saat air pasang.
Bahkan, sejumlah warga, salah satunya Bahrul,
menjadikan memancing sebagai kegiatan sampingan. Sehari-hari Bahrul bekerja
sebagai pedagang jus, tetapi pekerjaan itu ditinggalkan ketika Krueng Aceh pasang.
Ia mengatakan paling sering mendapatkan ikan
bulan-bulan. Ikan itu dijual seharga Rp 5.000 per ekor. ”Sekali memancing
paling sedikit dapat 30 ikan bulan-bulan. Lumayan bisa menambah penghasilan,”
ujarnya.
Bagi warga, memancing di Krueng Aceh bisa menjadi
pelepas penat. Juanda Arjuna (34), contohnya. Pria pegawai negeri sipil ini
sering meluangkan waktu untuk memancing di sungai itu selepas bekerja. ”Di
sini, ikan masih banyak. Ketika dapat rasanya lega, stres hilang,” ucapnya.
Warga pun menjadikan Krueng Aceh sebagai tempat
rekreasi. Sore adalah waktu terbaik para keluarga berkumpul di pinggiran
sungai. Mereka bercengkerama sembari makan rujak buah dari pedagang keliling.
Kondisi itu sangat didukung suasana sungai yang masih
asri. Di pinggiran sungai masih ada tanah lapang selebar 5-10 meter yang
ditumbuhi pepohonan rimbun, semisal pinus.
Krueng Aceh mempunyai peranan yang sangat penting
dalam menunjang aktivitas warga Banda Aceh. Banyak warga yang memanfaatkan air
sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Daroy
Banda Aceh menjadikan air sungai itu sebagai sumber air baku.
Di muaranya, Krueng Aceh menjadi tempat kapal-kapal
nelayan bersandar. Aktivitas kehidupan masyarakat di muara sungai telah
berlangsung lama. Tercatat Gampong Pande di sisi barat muara sungai itu
dibangun Sultan Alaidin Johansyah pada 22 April 1205. Permukiman ini diyakini
menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam dan Banda Aceh sekarang.
Belum maksimal
Belum maksimal
Warga berharap pemerintah setempat bisa memaksimalkan
dan melestarikan Krueng Aceh. Sungai ini belum dikelola dengan baik. Belum ada
fasilitas memadai yang membuat warga nyaman menikmati sungai itu, semisal jalur
khusus pedestrian, tempat duduk, dan pondokan. Di beberapa sudut sungai, warga
harus duduk lesehan di sembarang tempat. Wadah sampah pun tak banyak sehingga
warga masih membuang sampah sembarangan di pinggiran sungai atau ke sungai.
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Rere Meiliza (21), berpendapat, pemerintah
patut berkaca pada Malaysia yang cerdik menggarap tempat wisata sekalipun tak
terlalu istimewa. ”Di sini, Krueng Aceh bersih dan asri. Itu modal untuk
mengembangkan sektor pariwisata Aceh dan Banda Aceh,” kata warga asal Kota
Langsa ini.
Warga pendatang berpendapat serupa. Mahasiswa Fakultas
Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik Unsyiah asal Medan, Sumatera Utara, Alfri
Sinulingga (22), menilai, dibandingkan sungai-sungai di daerahnya, Krueng Aceh
jauh lebih baik. ”Wisatawan akan sangat betah di sini kalau ditunjang fasilitas
untuk pedestrian, tempat duduk, dan gazebo yang nyaman. Apalagi kalau ada
sarana perahu wisata,” ucapnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh telah berupaya
memaksimalkan potensi Krueng Aceh. Pada 2010, mereka membangun lima dermaga di
sepanjang sungai yang melintasi kota itu. Tujuannya, sebagai penunjang warga
dan wisatawan yang ingin menggunakan fasilitas perahu wisata. Sayang, fasilitas
itu terbengkalai.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banda Aceh
Muhammad Bahagia mengungkapkan, program itu belum berjalan karena dangkalnya
air Krueng Aceh. ”Saat itu, perahu yang dioperasikan tidak bisa jalan karena
terhalang sampah sisa tsunami yang memenuhi sungai tersebut,” katanya.
Pada 2013, Pemkot Banda Aceh dan Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menandatangani nota kesepahaman
untuk mengeruk sampah di Krueng Aceh sepanjang 5 kilometer. Proyek itu
dikerjakan dengan dana dari APBN Rp 10 miliar. ”Nantinya bukan hanya untuk
pariwisata. Sungai ini pun akan dimaksimalkan sebagai jalur utama transportasi
air,” kata Bahagia.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Hermanto
mengatakan, Pemerintah Provinsi Aceh harus berupaya meningkatkan kualitas
wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Wisatawan perlu dipikat agar mau tinggal
dalam waktu lama. Semakin lama mereka di Aceh, kian banyak pula uang yang
berputar di daerah itu.
Merujuk Aceh dalam Angka 2013, kunjungan wisatawan
domestik dan mancanegara meningkat tiga tahun ini. Tamu domestik ke Aceh pada
2010 sebanyak 720.079 orang. Jumlah itu meningkat menjadi 959.545 orang (2011)
dan 1.026.800 orang (2012). Adapun tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648
orang pada 2010. Jumlah itu meningkat menjadi 28.054 (2011) dan 28.993 (2012).
Namun, dunia wisata Aceh hanya meningkat dari segi
kuantitas wisatawan, tetapi tidak dalam kualitasnya. Data BPS Aceh 2013
menunjukkan, lama kunjungan wisatawan justru menurun setahun
terakhir. Menurut Hermanto, kondisi itu karena kurangnya fasilitas
pendukung di sejumlah tempat wisata di Aceh sehingga wisatawan tidak ingin
berlama-lama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar